Kamis, 14 April 2016

artikel

Aku ingin menjadi pengusaha
Orang tua ku selalu mengatakan “teh jadi PNS aja yaa” dan aku sebagai anak hanya bisa bilang iya, meskipun itu bukan cita-cita ku. Dan memang sejak duduk di bangku sekolah dasar aku selalu bilang ingin jadi guru. Tapi setiap tahun cita-cita ku itu berubah-ubah, ya maklum lah anak kecil masih labil. Namun dengan seiringnya waktu aku tau apa cita-cita ku. Dan aku memutuskan ingin menjadi pelukis dan impian aku ingin memiliki galeri lukisan. Oh my god tapi itu semua di bantah oleh kedua orang tua ku terutama alm kakek, beliau selalu mengatakan “jangan jadi pelukis, berhentilah mencintai hobby mu itu, karena itu salah satu perbuatan dosa” aku terdiam dan hanya memikirkan itu. Aku ga bisa, tapi kakek ku berkali-kali selalu mengatakan itu, “berhentilah, sudahlah jangan melebih-lebihkan ciptaan tuhan itu dosa”. Makin hari makin berfikir, benar juga apa yang alm kakek katakan. Setiap aku melukis alam atau melukis manusia,  selalu lebih bagus atau tidak seperti kenyataan yang tuhan ciptakan. Dan waktu terus berjalan, akhirnya cita-cita ku pun berubah lagi. Agar tidak melupakan kelebihan ku menggambar, maka aku memilih ingin menjadi designer yang terkenal. Yaah tapi orang tua ku tidak pernah mengikuti keinginan ku itu, ah itu semua hanya membuatku bingug. Mereka tidak pernah mengerti aku. Akhirnya sampai aku mau masuk kuliah, orang tua ku masih saja tidak memikirkan keinginanku. Hingga akkhirnya aku bingung. Yang lebih parahnya lagi ternyata kedua orang tua ku mempunyai pilihannya masing-masing. Papa ku memaksaku untuk kuliah di kuningan, sedangkan mama ku bersikeras agar aku masuk ikatan dinas di bandung. Dan tidak hanya mereka yg mempunyai masukan, tetapi berbagai sodara memberikan masukan. Seperti tante ku menyarankan daftar ke salah satu universitas yg mengajarkan designer. Dan ada lagi uwa ku ingin aku menjadi penerus nya. Agar aku sekolah tata rias saja. Hualah aku malah kerepotan dengan pilihan-pilihan mereka.
Dan akhirnya kakek ku memberikan masukan, agar aku kuliah di kuningan saja, dan ambilah jurusan ekonomi akuntansi. Hah awalnya sih kaget, secara aku lulusan dari ipa dan harus kuliah ke bidang ips. Aku merasa salah jurusan
Bicara tentang keinginan diri, kita masuk ke tahapan yang kedua: mengenali bahwa perasaan “salah-jurusan” ini memang sudah benar-benar salah, baik secara minat maupun bakat. Karena bisa jadi perasaan tersebut hanya salah secara minat, tetapi bukan berarti tidak berbakat di bidang tersebut.
Apakah aku memang salah jurusan, atau hanya karena tidak ingin, atau bahkan hanya karena ingin ikut trend yang ada sekarang?

Aku frustasi, aku selalu berfikir apa aku kabur saja. Tapi Mungkin itu bukan lah hal yang baik. Tentu saja aku pun berfikir agar lebih jernih lagi. Dan akhirnya aku pun berfikir mungkin sebaiknya aku menuruti apa kata orang tua saja. Aku ingin sekali menjadi pengusaha, dan itu bukan lah hal yang mudah. Aku pun banyak belajar dari banyak orang, pengusaha muda yang sukses itu banyak memotivasi ku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar