Kamis, 14 April 2016


Berikut ini adalah destinasi
Tempat wisata di Karawang mulai dari yang paling menarik dan populer serta dapat Anda jadikan tujuan wisata.

1. Pantai Tanjung Pakis
Pantai Tanjung Pakis ini terletak di ujung Utara Karawang, pantai ini memiliki pasir putih dengan ombak yang tenang dan indah. Di pantai ini sudah tersedia Penginapan berfasilitas AC dan TV, juga tersedia dengan fasilitas pendukung wisata seperti biasa, Warung Makan Tradisional yang menyajikan menu Ikan Bakar banyak ditemukan disepanjang pantai ini, tersedia juga Panggung Hiburan yang memperlihatkan Live Show Dangdut ketika Liburan Akhir Pekan, juga tersedia penyewaan perahu tradisional serta sarana bilas setelah Anda puas berenang di laut yang jernih dan tenang ini.
Lokasi Pantai Tanjung Pakis di Kecamatan Pakisjaya sekitar 70 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

2. Pantai Tanjung Baru
Pantai Tanjung Baru terletak di ujung Utara Karawang di sebelah Timur, pantai ini tidak jauh berbeda dengan pantai lain yang berada di Kab. Karawang, Lokasi Pantai Tanjung Baru terletak pada teluk di semenanjung antara Kab. Subang dan Kab. Karawang. Di kawasan pantai ini sudah tersedia Warung Makan Tradisional yang menyajikan Menu Ikan Bakar yang bisa dijumpai di disepanjang pantai, tersedia juga sebuah Panggung Hiburan, Pasar Tradisional serta Penginapan dengan fasilitas yang sederhana, tersedia juga penyewaan perahu tradisional dan juga sarana bilas air bersih setelah Anda merasa puas berenang di laut.
Lokasi Pantai Tanjung Baru di Kecamatan Cilamaya sekitar 45 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

3. Pantai Samudera Baru
Pantai Samudera Baru adalah obyek wisata pantai di Karawang yang menjadi andalan dari Kab. Karawang setelah Pantai Tanjung Pakis, di pantai ini sudah tersedia sarana - sarana pendukung Wisata Pantai, pantai yang berpasir putih dan ombak relatif tenang, indah nan asri. Di pantai ini juga sudah tersedia Warung Makan Tradisional yang menyajikan Menu Ikan Bakar yang bisa Anda jumpai di sepanjang pantai ini, tersedia juga sebuah Panggung Hiburan yang menampilkan Live Show Dangdut ketika hari libur besar, penyewaan perahu tradisional serta sarana bilas air bersih setelah Anda merasa puas berenang di laut.
Lokasi Pantai Samudera Baru di Kecamatan Pedes sekitar 30 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.




4. Curug Bandung
Curug Bandung adalah sebuah Keajaiban Alam yang memiliki 7 air terjun dalam satu aliran sungai, mulai dari Curug Peuteuy, Curug Picung dan yang paling besar adalah Curug Bandung, Curug ini terletak dibawah kaki Gunung Sanggabuana, untuk menuju Curug ini Anda harus berjalan kaki dengan jarak sekitar 3 km, akan tetapi Panorama Alam yang dimiliki Curug ini sangatlah Indah, Asri, dan jauh dari polusi udara yang ada di Kota Besar dan merupakan salah satu tempat wisata alam di karawang. Walau jalan untuk menuju Curug ini hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki berwisata sambil Olahraga dapat membuat tubuh Anda sehat karena udara di sekitar yang sehat dan bersih.
Lokasi Curug Bandung terletak di Desa Mekarbuana Kec. Tegalwaru sekitar 42 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

5. Danau Cipule
Danau Cipule ada karena sisa explotasi manusia dengan para penambang pasir, danau ini terletak persis di pinggir Kali Citarum selain luas, danau ini juga cukup dalam, namun Alam telah merubahnya sehingga menjadi sebuah keindahan Alam di sekitar danau ini. Di Danau ini Lomba Dayung pada PORPROV X JABAR dilaksanakan, dan juga pernah digunakan untuk Lomba Dayung YUNIOR ASEAN pada tahun 2006.
Lokasi Danau Cipule terletak di Desa Walahar, Kec. Ciampel sekitar 11 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.




6. Curug Cigentis - Lokasi di Desa Mekarbuana, Kec. Tegalwaru sekitar 44 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

7. Curug Cikarapyak - Lokasi di Desa Kutamaneuh, Kec. Tegalwaru, sekitar 42 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.
                                         
8. Curug Cikoleangkak - Lokasi di Desa Kutamaneuh, Kec. Tegalwaru sekitar 42 km dari Ibu Kota Kab. Karawang                    

9. Curug Cipanundaan - Lokasi di Desa Kutamaneuh, Kec. Tegalwaru sekitar 42 km dari Ibu Kota 

Kab. Karawa                   ng.

10. Bendungan Parisdo (Walahar) - Lokasi di Desa Walahar, Kec. Klari sekitar 10 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.
                                               
11. Danau Kalimati - Lokasi di Desa Walahar, Kec. Klari sekitar 11 km dari Ibu Kota, Kab. arawang.
                                               

12. Situ Kamojing - Lokasi di Desa Dawuan Kec. Cikampek sekitar 22 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.
                                               

13. Monumen Rawa Gede - Lokasi di Kec. Rawamerta sekitar 10 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.


14. Tugu Kebulatan Tekad - Lokasi di Kec. Rengasdengklok sekitar 20 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.


15. Situs Candi Blandongan - Lokasi di Desa Segaran, Kec. Batujaya sekitar 45 km dari Ibu Kota, Kab. Karawang.
16. Situs Candi Jiwa - Lokasi di Desa Segaran, Kec. Batujaya sekitar 45 km dari Ibu Kota, Kab. Karawang.

17. Situs Cibuaya I - Lokasi di Desa Cibuaya, Kec. Pedes sekitar 30 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

18. Situs Kuta Tandingan - Lokasi di Desa Mulyasejati, Kec. Ciampel sekitar 38 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

19. Temuan Peninggalan Purbakala - Lokasi di Desa Segaran, Kec. Batujaya, Kab. Karawang sekitar  45 km dari Pusat Kota Karawang.

20. Komplek Pemakaman Para Mantan Bupati - Lokasi di Desa Manggung Jaya, Kec. Cilamaya sekitar 40 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

21. Makam Nyi Mas Rara Santang - Lokasi di Desa Jayakerta, Kec. Jayakerta sekitar 30 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

22. Makam Syech Quro - Lokasi di Desa Pulokelapa Kec. Lemahabang sekitar 28 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

23. Makam Ki Bagus Jabin - Lokasi di Desa Cikampek Pusaka, Kec. Cikampek sekitar 26 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

24. Situs Cikubang - Lokasi di Desa Dawuan Tengah, Kec. Cikampek sekitar 18 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

25. Vihara Shia Jin Ku Po - Lokasi di Desa Tanjungpura, Kec. Karawang sekitar 4 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

Kesenian dan Budaya di Karawang
  1. Ecor - Lokasi Kampung Krajan Wadas, desa Kedawung, Kec. Talagasari, Kab. Karawang
  2. Cara Bali - Lagu Ajeng Karawang - Lokasi Kab. Karawang
  3. Bajidor - Lokasi Kabupaten Karawang
  4. Topeng Banjet - Lokasi Kabupaten Karawang
  5. Banjet - Lokasi Kabupaten Karawang
  6. Upacara Nadran - Kec. Sukabuntu, Karawang
  7. Bajing Kiring - Kec. Cikampek, Karawang
  8. Kliningan - Lokasi Kabupaten Karawang
  9. Ajeng Karawang - Lokasi Kabupaten Karawang




Potensi Wisata Budaya di Kabupaten Karawang

Objek wisatanya adalah:
-Site Museum Batujaya
-Situs Batujaya
-Situs Cibuaya
-Makam Syekh Quro
-Makam Syech Bentong
-Vihara sian Djin Kupoh
-Bendungan Walahar
-Rumah Pengasingan Bung Karno-Hatta
-Tugu Kebulatan Proklamasi
-Monumen Rawa Gede
-Situs Cikubang
-Makam Ki Bagus Jabin
-Makam Nyi Mas Rara Santang
-Makam Mantan Bupati Karawang
-Situs Candi Balandongan
-Situs Kuta Tandingan
-Bajidor
-Topeng Banjet
-Upacara Nadran
-Bajing Kiring
-Kliningan
-Ajeng Karawang

Tahun 1976, H. Suwanda menciptakan tepak kendang serta tariannya. Tepak kendang itu dipertunjukkan di tempat hajatan dan banyak yang menyukainya. Kemudian tepak kendang itu direkam oleh salah satu perusahaan rekaman kaset audio, untuk diterbitkan.  Tepak kendang itu belum ada namanya. Sedangkan untuk dipublikasikan jenis musik harus ada namanya.
Berunding dengan tokoh seni Dalang Reman, ditambah ide dari bodoran Topeng Banjet Ali Saban, akhirna H. Suwanda menemukan istilah jenis seni itu, yaitu Tepak Jaipong atau Jaipongan.
Bodoran yang menjadi ide itu yaitu, tokoh Si Saban (Ali Saban) dan Si Ijem (Emas/Bi Ijem) dari Grup Topeng Banjet Ali Saban, mencoba kemampuan juru kendangnya, untuk meniru suara kalimat dengan tepak kendang. Kalimatnya,” Mundur, mundur, mundur. …. Maju, maju, maju….. Blaktingpong, blaktingpong! Blaktuk, blaktuk!” Lalu  “Blaktingpong, blaktingpong!” dirubah menjadi “Jaipong, jaipong!”
Bodorannya, waktu  Ijem mengucapkan kalimat “Mundur, mundur, mundur.” Ali Saban sambil menari berjalan maju. Waktu Ijem ngucapkeun “maju, maju, maju.” Ali Saban sambil menari berjalan mundur. Demikian pertunjukan bodoran topeng Ali Saban di panggung   yang juru kendangnya H. Suwanda di tempat hajatan di Karawang dan sekitarnya.
Kaset audio yang beredar di Karawang  jadi andalan bagi yang mengadakan hajatan “niis” (tidak dengan hiburan pertunjukan langsung). Yang punya hajat “nanggap” kaset (kaset audio yang dijalankeun tape recorder) Topeng Banjet “Daya Asmara” pimpinan Ali Saban memakai “sompok” (loud speaker jenis horn) yang listriknya dari aki.
Dalam pikiran warga Karawang pasti terbayang, bodoran “Mundur, mundur, mundur….. Maju, maju, maju….. Jaipong, jaipong! …. Baktuk, blaktuk!” Ali Saban menari, dengan H. Suwanda sebagai juru kendangnya. Waktu itu, hiburan yang dominan di masyarakat Karawang, selain dari acara TVRI dan “dongeng Sunda” di radio, yaitu “Topeng Banjet” dan “Kiliningan” yang berubah menjadi “Jaipongan.” Walaupun tidak punya tape recorder sendiri, minimal  mereka mendengarkannya di tetangganya.
H. Gugum Gumbira mengembangkan, “memodernkan”, seni Jaipong Karawang hingga terkenal ke mana-mana, sampai ke mancanagara. H. Suwanda dan H. Gugum Gumbira mempertunjukkan jaipongan di kedutaan-kedutaan RI, di antaranya di Srilangka dan Jerman. Kemudian mereka dipanggil oleh yang pernah menontonnya, untuk dipertunjukkan di kota-kota yang ada di sekitar kedutaan RI di mancanagara.
“Nepak kendang” memakai siku yang kini diajarkan di perguruan tinggi, dan dipertunjukkan di mana-mana dalam bentuk “rampak kendang”, mungkin tak ada  yang menyangka idenya dari  Bah Awing, tokoh Topeng Banjet Karawang yang dikenal  sebagai “Bah Rewok”, serta dipopulerkan oleh H. Suwanda.
Lagu “Talak Tilu” yang sekarang  ada yang dipertunjukkan dalam video CD bajakan, dinyanyikan oleh artis “organ tunggal” (keyboard) sambil membungkuk dan menggerak-gerakkan pantat serta setengah telanjang, dan tentunya membuat bulu-bulu merinding,  hanya sedikit yang tahu  bahwa lagu itu diciptakan oleh H. Suwanda, serta waktu itu yang menyanyikannya memakai pakaian adat Sunda yang  rapi dan sopan.
Yang menulis buku, membahas Jaipongan, bahwa  Jaipongan  diciptakan di Bandung oleh H. Gugum Gumbira dari tarian rakyat Karawang. Kemudian buku itu jadi sumber  pengarang lainnya,  jadi sumber lagi, begitu seterusnya,  sambung-menyambung.  Ada yang tak sesuai dengan  fakta tentang Jaipongan, sehingga sabagian data sejarah jaipongan yang sabenarnya melenceng.  Situs Internet Wikipedia juga menguraikan Jaipongan dari buku,  tidak mengadakan konfirmasi kepada juru kendangnya. Oleh karena itu, Jaipongan juga tersebar ke seluruh dunia melalui Internet berdasarkan data dari buku.
H. Suwanda, juru kendang yang menciptakan pola tepak Jaipong itu,   lahir di Citopeng Desa Bolang Kecamatan Batujaya, Karawang, 3 Maret 1950. Kini rumah  serta  padepokannya berada di Krajan RT 06/05 No. 24 Kelurahan Tanjungmekar Kecamatan Karawang Barat, Karawang. (Sunta Atmaja)  




Kabupaten Karawang dilalui oleh beberapa sungai yang bermuara di Laut Jawa. Sungai Citarum merupakan pemisah antara Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi, sedangkan sungai Cilamaya merupakan batas wilayah dengan Kabupaten Subang. Selain sungai, terdapat 3 buah saluran irigasi yang besar, yaitu : Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum Tengah, dan Saluran Induk Tarum Barat yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak dan pembangkit tenaga listrik.
Luas wilayah Kabupaten Karawang 1.753,27 Km2 atau 175.327 Ha, luas tersebut merupakan 3,73 % dari luas Provinsi Jawa Barat dan memiliki laut seluas 4 Mil x 84,23 Km, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
  • Sebelah Utara              : Berbatasan dengan Laut Jawa
  • Sebelah Timur             : Berbatasan dengan Kabupaten Subang
  • Sebelah Tenggara      : Berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta
  • Sebelah Selatan          : Berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Cianjur
  • Sebelah Barat              : Berbatasan dengan Kabupaten Bekasi

Peristiwa Rengasdengklok terjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat antara golongan muda dan tua tentang masalah kapan dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kejadian tersebut berlangsung tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945. Golongan muda membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke rengasdengklok dengan tujuan untuk mengamankan keduanya dari intervensi pihak luar. Daaerah Rengasdengklok dipilih karena menurut perhitungan militer, tempat tersebut jauh dari jalan raya Jakarta-Cirebon. Di samping itu, mereka dengan mudah dapat mengawasi tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok dari arah Bandung maupun Jakarta.
·         Kronologi Peristiwa Rengasdengklok
·         Soekarno-Hatta berada di Rengasdengklok selama satu hari penuh. Usaha dan rencana para pemuda untuk menekan kedua pemimpin bangsa Indonesia itu agar cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan tentara Jepang tidak dapat dilaksanakan. Dalam peristiwa Rengasdengklok tersebut tampaknya kedua pemimpin itu mempunyai wibawa yang besar sehingga para pemuda merasa segan untuk mendekatinya, apalagi melakukan penekanan. Namun, melalui pembicaraan antara Shodanco Singgih dengan Soekarno, menyatakan bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke Jakarta.
·         Berdasarkan pernyataan Soekarno itu, pada tengah hari Shodanco Singgih kembali ke Jakarta untuk menyampaikan berita proklamasi kemerdekaan yang akan disampaikan oleh Soekarno kepada kawan-kawannya dan para pemimpin pemuda. Sementara itu, di Jakarta sedang terjadi perundingan antara Achmad Subardjo (mewakili golongan tua) dengan Wikana (mewakili golongan muda). Dari perundingan itu tercapai kata sepakat, bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta. Di samping itu, Laksamana Tadashi Maeda mengizinkan rumah kediamannya dijadikan sebagai tempat perundingan dan bahkan ia bersedia menjamin keselamatan para pemimpin bangsa Indonesia itu.
·         Akhir Peristiwa Rengasdengklok
·         Berdasarkan kesepakatan antara golongan pemuda dengan Laksamana Tadashi Maeda itu, Jusuf Kunto bersedia mengantarkan Achmad Subardjo dan sekretaris pribadinya pergi menjemput Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Sebelum berangkat Rengasdengidok, Achmad Subardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawanya bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Dengan jaminan itu, komandan kompi Peta Cudanco Subeno bersedia melepas Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta beserta rombongan untuk kembali ke Jakarta. Rombongan tersebut tiba di Jakarta pada pukul 17.30 WIB. Itulah sejarah singkat peristiwa Rengasdengklok yang terjadi sebelum proklamasi kemerdekaan.

Sejarah Singkat Karawang

Sekitar Abad XV Masehi, Agama Islam masuk ke Karawang yang dibawa oleh ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusup Idofi dari Champa yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro. Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa.
Keberadaan daerah Karawang yang telah dikenal sejak Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Daerah Bogor, karena Karawang pada masa itu merupakan jalur lalu lintas yang sangat penting untuk menghubungkan Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan Galuh Pakuan yang berpusat di Daerah Ciamis.
Luas Wilayah Kabupaten Karawang pada saat itu, tidak sama dengan luas Wilayah Kabupaten Karawang pada masa sekarang. Pada waktu itu luas Wilayah Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Purwakarta, Subang dan Karawang sendiri .
Setelah Kerajaan PaJajaran runtuh pada tahun 1579 Masehi, pada tahun 1580 Masehi berdiri Kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Pajajaran dengan Rajanya Prabu Geusan Ulun. Kerajaan Islam Sumedanglarang, pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan,Sukakerta dan Karawang.
Pada tahun 1608 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Ranggagempol Kusumahdinata. Pada masa itu di Jawa Tengah telah berdiri Kerajaan Mataram dengan Rajanya Sultan Agung (1613 - 1645). Salah satu cita-cita Sultan Agung pada masa pemerintahannya adalah dapat menguasai Pulau Jawa dan mengusir Kompeni (Belanda) dari Batavia.
Ranggagempol Kusumahdinata sebagai Raja Sumendanglarang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung dan mengakui kekuasaan Mataram. Maka pada Tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan kerajaan Sumedanglarang di bawah naungan Kerajaan Mataram.
Ranggagempol Kusumahdinata oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati (Wadana) untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah disebelah Timur Kali Cipamali, disebelah Barat Kali Cisadane, disebelah Utara Laut Jawa, dan disebelah Selatan Laut Kidul.
Pada Tahun 1624 Ranggagempol Kusumahdinata wafat, dan sebagai penggantinya Sultan Agung mengangkat Ranggagede, Putra Prabu Geusan Ulun.
Ranggagempol II, putra Ranggagempol Kusumahdinata yang semestinya menerima tahta kerajaan, merasa disisihkan dan sakit hati. Kemudian beliau berangkat ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Banten agar dapat menaklukkan Kerajaan Sumedanglarang dengan imbalan apabila berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedanglarang akan diserahkan kepada Banten.
Sejak itu banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang Sungai Citarum, di bawah Pimpinan Sultan Banten bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, Tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali pelabuhan Banten yang telah dikuasai oleh Kompeni (Belanda), yaitu pelabuhan Sunda Kelapa.
Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram. Pada Tahun 1624, Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojo Agung, Jawa Timur untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1000 Prajurit dengan keluarganya, dari Mataram melalui Banyumas dengan tujuan untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik dengan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyerangan Mataram ke Batavia.
Langkah awal yang dilakukan Aria Surengrono adalah dengan mendirikan 3 (tiga) Desa yaitu Waringinpitu (Telukjambe), Desa Parakansapi (di Kecamatan Pangkalan yang sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur) dan Desa Adiarsa (Sekarang ternlasuk di Kecamatan Karawang Barat), dengan pusat kekuatan di ditempatkan di Desa Waringinpitu.
Karena jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dengan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan kepada Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai angqapan bahwa tuqas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.
Demi menjaga keselamatan Wilayah Kerajaan Mataram sebelah barat, pada tahun 1628 dan 1629, bala tentara Kerajaan Mataram diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia. Namun serangan ini gagal disebabkan keadaan medan yang sangat berat. Sultan Agung kemudian menetapkan Daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram serta harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rencana penyerangan kembali terhadap VOC (belanda) di Batavia.
Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa Sari Galuh dengan membawa 1.000 prajurit dengan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia, sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang dianggap gagal.
Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya langsung dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas keberhasilannya Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugrahi jabatan Wedana (Setingkat Bupati) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama "Karosinjang".
Setelah penganugrahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya beliau singgah dahulu ke Galuh untuk menjenguk keluarganya.Atas takdir IIlahi Beliau kemudian wafat saat berada di Galuh.
Setelah Wiraperbangsa Wafat, Jabatan Bupati di Karawang dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah pada tahun 1633-1677.
Pada abad XVII kerajaan terbesar di Pulau Jawa adalah Mataram, dengan raja yang terkenal yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. la tidak menginginkan wilayah Nusantara diduduki atau dijajah oleh bangsa lain dan ingin mempersatukan Nusantara.
Dalam upaya mengusir VOC yang telah menanamkan kekuasaan di Batavia, Sultan Agung mempersiapkan diri dengan terlebih dahulu menguasai daerah Karawang, untuk dijadikan sebagai basis atau pangkal perjuangan dalam menyerang VOC.
Ranggagede diperintahnya untuk mempersiapkan bala tentara/prajurit dan logistik dengan membuka lahan-Iahan pertanian, yang kemudian berkembang menjadi lumbung padi.
Tanggal 14 September 1633 Masehi, bertepatan dengan tanggal 10 Maulud 1043 Hijriah, Sultan Agung melantik Singaperbangsa sebagai Bupati Karawang yang pertama, sehingga secara tradisi setiap tanggal 10 Maulud diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Karawang.
Berawal dari sejarah tersebut dan perjuangan persiapan proklamasi kemerdekaan RI, Karawang lebih dikenal dengan julukan sebagai kota pangkal perjuangan dan daerah lumbung padi Jawa Barat. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar