Jumat, 15 April 2016

Jalan-jalan ke Karawang yuk....
Berikut ini adalah destinasi 
Tempat wisata di Karawang mulai dari yang paling menarik dan populer serta dapat Anda jadikan tujuan wisata.

1. Pantai Tanjung Pakis
                          https://gagaswidodo.files.wordpress.com/2015/02/wpid-beach-alone-jpg.jpeg
Pantai Tanjung Pakis ini terletak di ujung Utara Karawang, pantai ini memiliki pasir putih dengan ombak yang tenang dan indah. Di pantai ini sudah tersedia Penginapan berfasilitas AC dan TV, juga tersedia dengan fasilitas pendukung wisata seperti biasa, Warung Makan Tradisional yang menyajikan menu Ikan Bakar banyak ditemukan disepanjang pantai ini, tersedia juga Panggung Hiburan yang memperlihatkan Live Show Dangdut ketika Liburan Akhir Pekan, juga tersedia penyewaan perahu tradisional serta sarana bilas setelah Anda puas berenang di laut yang jernih dan tenang ini.
Lokasi Pantai Tanjung Pakis di Kecamatan Pakisjaya sekitar 70 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

2. Pantai Tanjung Baru
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTBMtkBIbXyzjjMcyOnxi1WEml9O6TpB8qtmez6wd2leHBIR53Tvw
Pantai Tanjung Baru terletak di ujung Utara Karawang di sebelah Timur, pantai ini tidak jauh berbeda dengan pantai lain yang berada di Kab. Karawang, Lokasi Pantai Tanjung Baru terletak pada teluk di semenanjung antara Kab. Subang dan Kab. Karawang. Di kawasan pantai ini sudah tersedia Warung Makan Tradisional yang menyajikan Menu Ikan Bakar yang bisa dijumpai di disepanjang pantai, tersedia juga sebuah Panggung Hiburan, Pasar Tradisional serta Penginapan dengan fasilitas yang sederhana, tersedia juga penyewaan perahu tradisional dan juga sarana bilas air bersih setelah Anda merasa puas berenang di laut.
Lokasi Pantai Tanjung Baru di Kecamatan Cilamaya sekitar 45 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

3. Pantai Samudera Baru
                https://cuenk86.files.wordpress.com/2009/10/diklat448.jpg
Pantai Samudera Baru adalah obyek wisata pantai di Karawang yang menjadi andalan dari Kab. Karawang setelah Pantai Tanjung Pakis, di pantai ini sudah tersedia sarana - sarana pendukung Wisata Pantai, pantai yang berpasir putih dan ombak relatif tenang, indah nan asri. Di pantai ini juga sudah tersedia Warung Makan Tradisional yang menyajikan Menu Ikan Bakar yang bisa Anda jumpai di sepanjang pantai ini, tersedia juga sebuah Panggung Hiburan yang menampilkan Live Show Dangdut ketika hari libur besar, penyewaan perahu tradisional serta sarana bilas air bersih setelah Anda merasa puas berenang di laut.
Lokasi Pantai Samudera Baru di Kecamatan Pedes sekitar 30 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

4. Curug Bandung

Curug Banhttps://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcStaIs0AsIZgUnhAJZO6qp-EMYNa5Ytu-t7_T92IAkBOw0AYMeRdung adalah sebuah Keajaiban Alam yang memiliki 7 air terjun dalam satu aliran sungai, mulai dari Curug Peuteuy, Curug Picung dan yang paling besar adalah Curug Bandung, Curug ini terletak dibawah kaki Gunung Sanggabuana, untuk menuju Curug ini Anda harus berjalan kaki dengan jarak sekitar 3 km, akan tetapi Panorama Alam yang dimiliki Curug ini sangatlah Indah, Asri, dan jauh dari polusi udara yang ada di Kota Besar dan merupakan salah satu tempat wisata alam di karawang. Walau jalan untuk menuju Curug ini hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki berwisata sambil Olahraga dapat membuat tubuh Anda sehat karena udara di sekitar yang sehat dan bersih.
Lokasi Curug Bandung terletak di Desa Mekarbuana Kec. Tegalwaru sekitar 42 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

5. Danau Cipule
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQErK7wU2y9Vnvy71Z7_-5Sei1b5UDDvZIInj1XR6xwpUob2Ecb
Danau Cipule ada karena sisa explotasi manusia dengan para penambang pasir, danau ini terletak persis di pinggir Kali Citarum selain luas, danau ini juga cukup dalam, namun Alam telah merubahnya sehingga menjadi sebuah keindahan Alam di sekitar danau ini. Di Danau ini Lomba Dayung pada PORPROV X JABAR dilaksanakan, dan juga pernah digunakan untuk Lomba Dayung YUNIOR ASEAN pada tahun 2006.
Lokasi Danau Cipule terletak di Desa Walahar, Kec. Ciampel sekitar 11 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.



6. Curug Cigentis - Lokasi di Desa Mekarbuana, Kec. Tegalwaru sekitar 44 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.
                           https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTaG6tbmU8TmHkhH7Nm7afHy4UsEjjZyyQ47rwr_F2cIshfuxyG
7. Curug Cikarapyak - Lokasi di Desa Kutamaneuh, Kec. Tegalwaru, sekitar 42 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.
                                         https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhACtM_GNFn32r46ftZCdPiBXZm6_f2hGZhxFHTIVxLJ-wh97fW7WZWFv_weX64j90j9Bu1KAM_COCWACupIeeDq7o4XKubVQHxg0B7MXkU4EUE-uArpm2tJAh3oQD7mkHYdmDm0pUS9IjM/s320/curug_cikarapyak.jpg
8. Curug Cikoleangkak - Lokasi di Desa Kutamaneuh, Kec. Tegalwaru sekitar 42 km dari Ibu Kota Kab. Karawang                    http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/fimages/CURUG_CIKOLEANGKAK.jpg

9. Curug Cipanundaan - Lokasi di Desa Kutamaneuh, Kec. Tegalwaru sekitar 42 km dari Ibu Kota 

Kab. Karawa                   ng.https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS8z_n4m6nVYlSHdSnNj8qVBb9xytFT21WCHYL4WU3tEvlch6Ve

10. Bendungan Parisdo (Walahar) - Lokasi di Desa Walahar, Kec. Klari sekitar 10 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.
                                               https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSTU80g7GhwTGdyZY8EKmhdt5aoU82nPev5S8c--5G3A9e2_0ASHQ
11. Danau Kalimati - Lokasi di Desa Walahar, Kec. Klari sekitar 11 km dari Ibu Kota, Kab. arawang.
                                               https://serbaserbikarawang.files.wordpress.com/2011/12/danau-kalimati.jpg
12. Situ Kamojing - Lokasi di Desa Dawuan Kec. Cikampek sekitar 22 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.
                                                http://i491.photobucket.com/albums/rr274/deniborin/situkamojing3-wwwkarawanginfo.jpg
13. Monumen Rawa Gede - Lokasi di Kec. Rawamerta sekitar 10 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.


14. Tugu Kebulatan Tekad - Lokasi di Kec. Rengasdengklok sekitar 20 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.
http://www.jabarprov.go.id/jabar/files/Tekad.jpg

15. Situs Candi Blandongan - Lokasi di Desa Segaran, Kec. Batujaya sekitar 45 km dari Ibu Kota, Kab. Karawang.
16. Situs Candi Jiwa - Lokasi di Desa Segaran, Kec. Batujaya sekitar 45 km dari Ibu Kota, Kab. Karawang.

17. Situs Cibuaya I - Lokasi di Desa Cibuaya, Kec. Pedes sekitar 30 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

18. Situs Kuta Tandingan - Lokasi di Desa Mulyasejati, Kec. Ciampel sekitar 38 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

19. Temuan Peninggalan Purbakala - Lokasi di Desa Segaran, Kec. Batujaya, Kab. Karawang sekitar  45 km dari Pusat Kota Karawang.

20. Komplek Pemakaman Para Mantan Bupati - Lokasi di Desa Manggung Jaya, Kec. Cilamaya sekitar 40 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

21. Makam Nyi Mas Rara Santang - Lokasi di Desa Jayakerta, Kec. Jayakerta sekitar 30 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

22. Makam Syech Quro - Lokasi di Desa Pulokelapa Kec. Lemahabang sekitar 28 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

23. Makam Ki Bagus Jabin - Lokasi di Desa Cikampek Pusaka, Kec. Cikampek sekitar 26 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

24. Situs Cikubang - Lokasi di Desa Dawuan Tengah, Kec. Cikampek sekitar 18 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

25. Vihara Shia Jin Ku Po - Lokasi di Desa Tanjungpura, Kec. Karawang sekitar 4 km dari Ibu Kota Kab. Karawang.

Kesenian dan Budaya di Karawang
1.     Ecor - Lokasi Kampung Krajan Wadas, desa Kedawung, Kec. Talagasari, Kab. Karawang
2.     Cara Bali - Lagu Ajeng Karawang - Lokasi Kab. Karawang
3.     Bajidor - Lokasi Kabupaten Karawang
4.     Topeng Banjet - Lokasi Kabupaten Karawang
5.     Banjet - Lokasi Kabupaten Karawang
6.     Upacara Nadran - Kec. Sukabuntu, Karawang
7.     Bajing Kiring - Kec. Cikampek, Karawang
8.     Kliningan - Lokasi Kabupaten Karawang
9.     Ajeng Karawang - Lokasi Kabupaten Karawang




Potensi Wisata Budaya di Kabupaten Karawang 

Objek wisatanya adalah:
-Site Museum Batujaya
-Situs Batujaya
-Situs Cibuaya
-Makam Syekh Quro
-Makam Syech Bentong
-Vihara sian Djin Kupoh
-Bendungan Walahar
-Rumah Pengasingan Bung Karno-Hatta
-Tugu Kebulatan Proklamasi
-Monumen Rawa Gede
-Situs Cikubang
-Makam Ki Bagus Jabin
-Makam Nyi Mas Rara Santang
-Makam Mantan Bupati Karawang
-Situs Candi Balandongan
-Situs Kuta Tandingan
-Bajidor
-Topeng Banjet
-Upacara Nadran
-Bajing Kiring
-Kliningan
-Ajeng Karawang

Tahun 1976, H. Suwanda menciptakan tepak kendang serta tariannya. Tepak kendang itu dipertunjukkan di tempat hajatan dan banyak yang menyukainya. Kemudian tepak kendang itu direkam oleh salah satu perusahaan rekaman kaset audio, untuk diterbitkan.  Tepak kendang itu belum ada namanya. Sedangkan untuk dipublikasikan jenis musik harus ada namanya.
Berunding dengan tokoh seni Dalang Reman, ditambah ide dari bodoran Topeng Banjet Ali Saban, akhirna H. Suwanda menemukan istilah jenis seni itu, yaitu Tepak Jaipong atau Jaipongan.
Bodoran yang menjadi ide itu yaitu, tokoh Si Saban (Ali Saban) dan Si Ijem (Emas/Bi Ijem) dari Grup Topeng Banjet Ali Saban, mencoba kemampuan juru kendangnya, untuk meniru suara kalimat dengan tepak kendang. Kalimatnya,” Mundur, mundur, mundur. …. Maju, maju, maju….. Blaktingpong, blaktingpong! Blaktuk, blaktuk!” Lalu  “Blaktingpong, blaktingpong!” dirubah menjadi “Jaipong, jaipong!”
Bodorannya, waktu  Ijem mengucapkan kalimat “Mundur, mundur, mundur.” Ali Saban sambil menari berjalan maju. Waktu Ijem ngucapkeun “maju, maju, maju.” Ali Saban sambil menari berjalan mundur. Demikian pertunjukan bodoran topeng Ali Saban di panggung   yang juru kendangnya H. Suwanda di tempat hajatan di Karawang dan sekitarnya.
Kaset audio yang beredar di Karawang  jadi andalan bagi yang mengadakan hajatan “niis” (tidak dengan hiburan pertunjukan langsung). Yang punya hajat “nanggap” kaset (kaset audio yang dijalankeun tape recorder) Topeng Banjet “Daya Asmara” pimpinan Ali Saban memakai “sompok” (loud speaker jenis horn) yang listriknya dari aki.
Dalam pikiran warga Karawang pasti terbayang, bodoran “Mundur, mundur, mundur….. Maju, maju, maju….. Jaipong, jaipong! …. Baktuk, blaktuk!” Ali Saban menari, dengan H. Suwanda sebagai juru kendangnya. Waktu itu, hiburan yang dominan di masyarakat Karawang, selain dari acara TVRI dan “dongeng Sunda” di radio, yaitu “Topeng Banjet” dan “Kiliningan” yang berubah menjadi “Jaipongan.” Walaupun tidak punya tape recorder sendiri, minimal  mereka mendengarkannya di tetangganya.
H. Gugum Gumbira mengembangkan, “memodernkan”, seni Jaipong Karawang hingga terkenal ke mana-mana, sampai ke mancanagara. H. Suwanda dan H. Gugum Gumbira mempertunjukkan jaipongan di kedutaan-kedutaan RI, di antaranya di Srilangka dan Jerman. Kemudian mereka dipanggil oleh yang pernah menontonnya, untuk dipertunjukkan di kota-kota yang ada di sekitar kedutaan RI di mancanagara.
“Nepak kendang” memakai siku yang kini diajarkan di perguruan tinggi, dan dipertunjukkan di mana-mana dalam bentuk “rampak kendang”, mungkin tak ada  yang menyangka idenya dari  Bah Awing, tokoh Topeng Banjet Karawang yang dikenal  sebagai “Bah Rewok”, serta dipopulerkan oleh H. Suwanda.
Lagu “Talak Tilu” yang sekarang  ada yang dipertunjukkan dalam video CD bajakan, dinyanyikan oleh artis “organ tunggal” (keyboard) sambil membungkuk dan menggerak-gerakkan pantat serta setengah telanjang, dan tentunya membuat bulu-bulu merinding,  hanya sedikit yang tahu  bahwa lagu itu diciptakan oleh H. Suwanda, serta waktu itu yang menyanyikannya memakai pakaian adat Sunda yang  rapi dan sopan.
Yang menulis buku, membahas Jaipongan, bahwa  Jaipongan  diciptakan di Bandung oleh H. Gugum Gumbira dari tarian rakyat Karawang. Kemudian buku itu jadi sumber  pengarang lainnya,  jadi sumber lagi, begitu seterusnya,  sambung-menyambung.  Ada yang tak sesuai dengan  fakta tentang Jaipongan, sehingga sabagian data sejarah jaipongan yang sabenarnya melenceng.  Situs Internet Wikipedia juga menguraikan Jaipongan dari buku,  tidak mengadakan konfirmasi kepada juru kendangnya. Oleh karena itu, Jaipongan juga tersebar ke seluruh dunia melalui Internet berdasarkan data dari buku.
H. Suwanda, juru kendang yang menciptakan pola tepak Jaipong itu,   lahir di Citopeng Desa Bolang Kecamatan Batujaya, Karawang, 3 Maret 1950. Kini rumah  serta  padepokannya berada di Krajan RT 06/05 No. 24 Kelurahan Tanjungmekar Kecamatan Karawang Barat, Karawang. (Sunta Atmaja)  




Kabupaten Karawang dilalui oleh beberapa sungai yang bermuara di Laut Jawa. Sungai Citarum merupakan pemisah antara Kabupaten Karawang dengan Kabupaten Bekasi, sedangkan sungai Cilamaya merupakan batas wilayah dengan Kabupaten Subang. Selain sungai, terdapat 3 buah saluran irigasi yang besar, yaitu : Saluran Induk Tarum Utara, Saluran Induk Tarum Tengah, dan Saluran Induk Tarum Barat yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah, tambak dan pembangkit tenaga listrik.
Luas wilayah Kabupaten Karawang 1.753,27 Km2 atau 175.327 Ha, luas tersebut merupakan 3,73 % dari luas Provinsi Jawa Barat dan memiliki laut seluas 4 Mil x 84,23 Km, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
  • Sebelah Utara              : Berbatasan dengan Laut Jawa
  • Sebelah Timur             : Berbatasan dengan Kabupaten Subang
  • Sebelah Tenggara      : Berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta
  • Sebelah Selatan          : Berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Cianjur
  • Sebelah Barat              : Berbatasan dengan Kabupaten Bekasi

Peristiwa Rengasdengklok terjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat antara golongan muda dan tua tentang masalah kapan dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kejadian tersebut berlangsung tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945. Golongan muda membawa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke rengasdengklok dengan tujuan untuk mengamankan keduanya dari intervensi pihak luar. Daaerah Rengasdengklok dipilih karena menurut perhitungan militer, tempat tersebut jauh dari jalan raya Jakarta-Cirebon. Di samping itu, mereka dengan mudah dapat mengawasi tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok dari arah Bandung maupun Jakarta.
·         Kronologi Peristiwa Rengasdengklok
·         Soekarno-Hatta berada di Rengasdengklok selama satu hari penuh. Usaha dan rencana para pemuda untuk menekan kedua pemimpin bangsa Indonesia itu agar cepat-cepat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan tentara Jepang tidak dapat dilaksanakan. Dalam peristiwa Rengasdengklok tersebut tampaknya kedua pemimpin itu mempunyai wibawa yang besar sehingga para pemuda merasa segan untuk mendekatinya, apalagi melakukan penekanan. Namun, melalui pembicaraan antara Shodanco Singgih dengan Soekarno, menyatakan bahwa Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke Jakarta.
·         Berdasarkan pernyataan Soekarno itu, pada tengah hari Shodanco Singgih kembali ke Jakarta untuk menyampaikan berita proklamasi kemerdekaan yang akan disampaikan oleh Soekarno kepada kawan-kawannya dan para pemimpin pemuda. Sementara itu, di Jakarta sedang terjadi perundingan antara Achmad Subardjo (mewakili golongan tua) dengan Wikana (mewakili golongan muda). Dari perundingan itu tercapai kata sepakat, bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta. Di samping itu, Laksamana Tadashi Maeda mengizinkan rumah kediamannya dijadikan sebagai tempat perundingan dan bahkan ia bersedia menjamin keselamatan para pemimpin bangsa Indonesia itu.
·         Akhir Peristiwa Rengasdengklok
·         Berdasarkan kesepakatan antara golongan pemuda dengan Laksamana Tadashi Maeda itu, Jusuf Kunto bersedia mengantarkan Achmad Subardjo dan sekretaris pribadinya pergi menjemput Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Sebelum berangkat Rengasdengidok, Achmad Subardjo memberikan jaminan dengan taruhan nyawanya bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Dengan jaminan itu, komandan kompi Peta Cudanco Subeno bersedia melepas Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta beserta rombongan untuk kembali ke Jakarta. Rombongan tersebut tiba di Jakarta pada pukul 17.30 WIB. Itulah sejarah singkat peristiwa Rengasdengklok yang terjadi sebelum proklamasi kemerdekaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar